Minggu, 09 Desember 2012

Petunjuk Nabi dalam meredam Amarah

Marah termasuk sifat bawaan pada manusia yang sebenarnya mengandung kemashalatan dan manfaat. Sebab, dikatakan Syaikh Shaleh al-Fauzan hafizhahullah, orang yang tidak bisa marah, terdapat kekurangan pada dirinya. Hanya saja, kemarahan itu harus diterapkan pada tempatnya. Apabila melampaui batas dan rambunya, maka akan menimbulkan bahaya[1] sehingga akan merugikan dan menjadi sifat tercela.
Sebelum memuntahkan amarah kepada orang lain atau benda sekalipun, baiknya orang memperhatikan hadits berikut yang berisi pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seseorang yang meminta nasehat dari beliau. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Berilah aku nasehat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ngulang permintaannya, (namun) Nabi (selalu) menjawab,”Janganlah engkau marah.” [2]
Pesan hadits di atas sudah sangat jelas mengenai celaan terhadap marah, sehingga juga memperingatkan orang agar menjauhi faktor-faktor pemicunya.[3] Sebab satu jawaban yang sama dilontarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk merespon satu permintaan yang diulang-ulang menjadi petunjuk akan efek besar yang ditimbulkan oleh amarah.
Oleh karena itu, dalam beberapa hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menghadirkan beberapa terapi nabawi untuk meredam emosi yaitu:

  1. Membaca Isti’adzah (doa mohon perlindungan) dari setan yang terlaknat.
    Diriwayatkan dari Sulaiman bin Shurd radhiyallahu ‘anhu berkata, “
    Aku pernah duduk di samping Nabi saat dua orang lelaki tengah saling caci. Salah seorang dari mereka telah memerah wajahnya dan urat lehernya tegang. Beliau bersabda, “Aku benar-benar mengetahui perkataan yang bila diucapkannya, niscaya akan lenyap apa (emosi) yang ia alami. Andai ia mengatakan: A’udzu billahi minasy syaithanir rajim, pastilah akan lenyap emosi yang ada padanya.” [HR.al-Bukhari no.3282, Muslim no.2610]
    Hadits ini semakna dengan firman Allah azza wa jalla yang artinya, “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” [QS.al-A'raf/7:200]
  2. Mengambil air wudhu
    Dari Athiyyah as-Sa’di radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.[4]
  3. Menahan diri dengan diam
    Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Barangsiapa marah, hendaknya diam (dulu).” [HR.Ahmad no.2029]
  4. Merubah posisi dengan duduk atau berbaring
    Dari Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian marah saat berdiri, hendaknya ia duduk, kalau belum pergi amarahnya, hendaknya ia berbaring.” [HR.Ahmad no.2038]
  5. Mengingat-ingat keutamaan orang yang sanggup menahan emosi dan bahaya besar yang timbul dari luapan amarah yang akan dijauhkan dari taufik.
    Dari Muadz radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” [HR.at-Tirmidzi no.1944]

    Wallahu a’lam.
Note:
[1] Al Minhah ar-Rabbaniyyah Fi Syarhil Arba’in Nawawiyyah hal.161
[2] HR.al-Bukhari no.6116
[3] Silsilah al-Manahi asy-Syar’iyyah 4/37
[4] Syaikh Bin Baz rahimahullah menilai hadits ini sanadnya jayyid
Sumber: Diketik ulang (dgn segala kekurangannya khususnya tidak adanya teks dalam bahasa arab) dari Majalah As-Sunnah Edisi 10/Thn.XIII/Muharram 1431H/Januari 2010M Rubrik Baituna  Hal.6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar